MAKALAH
PENGERTIAN DAN PRINSIP MANAGEMEN,
MANAGEMEN DALAM PELAYANAN
KEBIDANAN
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah AsuhanKebidanan 5
Disusun Oleh : Kelompok
1
Anggi Setia Puji Lestari
Dyanova Eka Rahayu
Herlina Subandi
Megawati
Nadia Destipany
Novi Syaodiyah Nurhayati
Suci Ayudhita Marini
Tingkat :
3B
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KOTA SUKABUMI
Jl. Karamat 36 Telp. (0266) 210215 Fax. (0266) 223709 Kota Sukabumi
E-mail :stikesmi_edu@yahoo.co.id
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Bidan sebagai seorang pemberi layanan kesehatan (health provider) harus
dapat melaksanakan pelayanan kebidanan dengan melaksanakan manajemen yang baik.
Dalam hal ini bidan berperan sebagai seorang manajer, yaitu mengelola atau
memanage segala sesuatu tentang kliennya sehingga tercapai tujuan yang di
harapkan. Dalam mempelajari manajemen kebidanan di perlukan pemahaman mengenai
dasar – dasar manajemen sehingga konsep dasar manajemen merupakan bagian
penting sebelum kita mempelajari lebih lanjut tentang manajemen kebidanan.
Akar atau dasar manajemen kebidanan, adalah ilmu manajemen secara umum.
Dengan mempelajari teori manajemen, maka diharapkan bidan dapat menjadi manajer
ketika mendapat kedudukan sebagai seorang pimpinan, dan sebaliknya dapat
melakukan pekerjaan yang baik pula ketika bawahan dalam suatu sistem organisasi
kebidanan. Demikian pula dalam hal memberikan pelayanan kesehatan pada
kliennya, seorang bidan haruslah menjadi manager yang baik dalam rangka pemecahan
masalah dari klien tersebut. Untuk itu kita perlu mengenal terlebih dahulu
pemahaman mengenai ilmu manajemen secara umum, teori – teori manajemen, fungsi
– fungsi manajemen, dan bahkan manajemen skill.
Manajemen kebidanan adalah suatu metode proses berfikir logis
sistematis. Oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur pikir bagi
seorang bidan dalam memberikan arah/kerangka dalam menangani kasus yang menjadi
tanggung jawabnya.
Manajemen kebidanan mempunyai peran penting dalam menunjang kerja seorang
bidan agar bidan dapat melakukan pelayanan dengan baik kepada kliennya. Oleh
karena itu, kami menyusun makalah ini dengan judul “Pengertian dan Prinsip
Managemen,Managemendalam
Pelayanan Kebidanan“ selain sebagai tugas kelompok juga dapat dijadikan referensi
bagi pembaca.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan manajemen secara umum?
2.
Apa yang dimaksud dengan managemen kebidanan?
3.
Apa sajakah prinsip-prinsip dalam managemen pelayan kebidanan?
4.
Bagaimana
langkah dalam manajemen pelayanan kebidanan yang berkualitas?
C.
TujuanPenulisan
1.
Untukmengetahuipengertianmanajemen secaraumum.
2.
Untukmengetahuipengertianmanagemenkebidanan.
3.
Untukmengetahuiprinsip-prinsipdalammanagemenpelayankebidanan.
4.
Untukmengetahuilangkahdalam manajemen pelayanankebidanan yang berkualitas.
D.
ManfaatPenulisan
1.
Dapatmengetahuipengertianmanajemen secaraumum.
2.
Dapatmengetahuipengertianmanagemenkebidanan.
3.
Dapatmengetahuiprinsip-prinsipdalammanagemenpelayankebidanan.
4.
Dapatmengetahuilangkahdalam manajemen pelayanankebidanan yang
berkualitas.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika yang
digunakan adalah :
BAB I PENDAHULUAN terdiri dari Latar
Belakang, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Rumusan Masalah, dan Sistematika
Penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI terdiri dari
BAB III PEMBAHASAN terdiri dari
BAB IV PENUTUP terdiri dari Kesimpulan
dan Saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
PengertiandanPrinsipManagemenSecaraUmum
Manajemen berasal dari
kata manage atau managiare (romawi kuno) berarti melatih dalam melangkahkan
kaki. Manajemen adalah proses pengaturan berbagai sumberdaya organisasi untuk
mencapai tujuan yang sudah ditentukan melalui pelaksanaan fungsi-fungsi
tertentu.
Beberapa pengertian managemenyang dikemukakan oleh beberapa ahli,
sebagai berikut :
1.
Manajemen adalah suatu pencapaian tujuan
yang telah ditentukan dengan menggunakan
orang lain (Robert. D.
Terry).
2.
Manajemen adalah proses dimana
pelaksanaan dari suatu tujuan diselenggarakan dan diawasi (Encyclopedia of
Social).
3.
Manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu orang atau lebih
untuk
mengkoordinasikan
kegiatan - kegiatan orang lain guna mencapai tujuan /
hasil (Evancevich).
4.
Manajemen adalah membuat tujuan tercapai
melalui kegiatan orang lain dan fungsi-fungsinya dapat dipecah
sekurang-kurangnya 2 tanggung jawab utama yakni perencanaan dan pengawasan
(Evancevich).
5.
Manajemen adalah suatu kegiatan atau
seni untuk mengatur para petugas kesehatan kesehatan non kesehatan guna
meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan (Noto Atmojo).
6.
Manajemen adalah ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan
sumber daya secara efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan (AA. Gde Muninjaya, 2004).
Manajemen
mengandung 3 prinsip pokok yang menjadi ciri utama penerapannya yaitu :
1.
Efisien
dalam pemanfaatan sumber daya.
2.
Efektif
dalam memilih alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi.
3.
Regional dalam
pengambilan keputusan managerial.
BAB III
PEMBAHASAN
B. Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah suatu metode proses
berfikir logis sistematis.Istilah manajemen kebidanan digunakan untuk
memberikan bentuk khusus dari proses yang dilakukan oleh bidan didalam asuhan
atau pelayanan kebidanan (DepKes, 2003).
Oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur fikir
bagi seorang bidan dalam memberikan arah/kerangka dalam menangani kasus yang
menjadi tanggung jawabnya.
Beberapa pengertian manajemen kebidanan menurut berbagaisumber :
a.
Menurut buku
50 tahun IBI, 2007
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan
oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai
dari pengkajian, analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi.
b.
Menurut
Depkes RI, 2005
Manajemen kebidanan adalah metode pendekatan pemecahan
masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan
kebidanan kepada individu, keluarga, dan masyarakat.
c.
Menurut Helen Varney, 1997
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah
yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam
rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada
klien.
Jadi, dalam
pelayanan kebidanan, manajemen adalah proses pelaksanaan pemberian pelayanan
kebidanan untuk memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan tujuan
menciptakan kesejahteraan bagi ibu dan anak, kepuasan pelanggan dan kepuasan
bidan sebagai provider.
Prinsip proses managemen kebidanan sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh American College
Of Nurse Midwife (ACNM) terdiri dari
:
1.
Secara
sistematis mengumpulkan data dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan
dengan melakukan pengkajian yang keomprehensif terhadap kesehatan setiap klien,
termasuk mengumpulkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
2.
Mengidentifikasi
masalah dan membuat diagnosa berdasarkan interpretasi data dasar.
3.
Mengidentifikasi
kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam menyelesaikan masalah dan merumuskan
tujuan asuhan kesehatan bersama klien.
4.
Memberi
informasi dan support sehingga klien dapat membuat keputusan dan bertanggung
jawab terhadap kesehatannya.
5.
Membuat
rencana asuhan yang komprehensif bersama klien.
6.
Secara
pribadi bertanggungjawab terhadap implementasi rencana individual.
7.
Melakukan
konsultasi, perencanaan dan melaksanakan manajemen dengan berkolaborasi dan
merujuk klien untuk mendapatkan asuhan selanjutnya.
8.
Merencanakan
manajemen terhadap komplikasi tertentu, dalam situasi darurat dan bila ada
penyimpangan dari keadaan normal.
9.
Melakukan
evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan kesehatan dan merevisi
rencana asuhan sesuai dengan kebutuhan.
Seorang bidan dalam manajemen yang dilakukan perlu
lebih kritis untuk mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial. Dengan
kemampuan yang lebih dalam melakukan analisa, bidan akan menemukan diagnosa
atau masalah potensial ini. Kadangkala bidan juga harus segera bertindak untuk
menyelesaikan masalah tertentu dan mungkin juga melakukan kolaborasi,
konsultasi atau bahkan merujuk kliennya.
Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa permasalahan
kesehatan ibu yang ditangani oleh bidan mutlak menggunakan metode dan
pendekatan masalah. Sesuai dengan lingkup dan tanggungjawabnya, maka sasaran
manajemen kebidanan ditujukan pada individu, ibu dan anak, keluarga maupun
kelompok masyarakat.
Upaya menyehatkan dan meningkatkan status kesehatan
keluarga akan lebih efektif bila dilakukan melalui ibu baik didalam keluarga
maupun keluarga didalam kelompok masyarakat. Manajemen kebidanan digunakan oleh
bidan didalam setiap melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan kesehatan ibu dan anak
dalam lingkup tanggungjawabnya.
Prinsip-prinsip
manajemen kebidanan dalam memberikan asuhan kebidanan:
1.
Minimalkan
rasa tidak nyaman baik fisik maupun emosi
2.
Jaga privasi
klien
3.
Adaptasikan
pola pendekatan ke klien dengan tepat
4.
Beri
kesempatan kepada klien untuk
mendapatkan dukungan
5.
Saling
bertukar informasi
6.
Beri
kesempatan klien untuk bertanya
7.
Dukung hak
klien untuk membuat dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan mengenai
perawatan
8.
Komunikasikan
dengan tim kesehatan lain
9.
Terima
tanggung jawab dalam membuat keputusan dan konsekuensinya
10.
Kembangkan
lingkungan yang saling menghargai di setiap interaksi profesional.
C. ManagemendalamPelayananKebidanan
Penerapan managemen
kebidanan dalam bentuk kegiatan praktek kebidanan dilakukan melalui suatu
proses yang disebut langkah-langkah atau proses manajemen kebidanan.
Langkah-langkah
manajemen kebidanan tersebut adalah:
1.
Identifikasi
dan analisis masalah
2.
Diagnosa
kebidanan
3.
Perencanaan
4.
Pelaksanaan
5.
Evaluasi
Pada tahun 1997, Helen Varney menyempurnakan proses 5
langkah tersebut menjadi 7 langkah. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka
yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap
langkah tersebut bisa dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan semuanya
bervariasi sesuai dengan kondisi klien.
Tujuh langkah manajemen kebidanan menurut Helen Varney
Langkah I : Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara
keseluruhan
Langkah II : Mengintreprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa/masalah
Langkah III : Mengidentifikasi diagnosis/masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya
Langkah IV : Menetapkan kebutuhan akan tindakan segera,
konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatan lain, serta rujukan berdasarkan
kondisi klien
Langkah V : Menyusunrencana asuhan secara
menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada
langkah-langkah sebelumnya
Langkah VI : Melaksanakan langsung asuhan secara
efisien dan aman
Langkah VII : Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali
manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif
Melihat kembali penjelasan diatas maka proses
manajemen kebidanan merupakan pola pikir bidan dalam melaksanakan asuhan kepada
klien. Diharapkan dengan pendekatan pemecahan masalah yang sistematis dan
rasional, serta seluruh aktifitas atau tindakan yang diberikan oleh bidan pada
klien akan efektif, serta terhindar dari seluruh aktivitas atau tindakan yang
bersifat coba-coba yang akan berdampak kurang baik untuk klien.
Setiap langkah dalam manajemen kebidanan akan
dijabarkan, sebagai berikut :
1.
Tahap
Pengumpulan Data Dasar (Langkah I)
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi
(data) yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi
klien.
Untukmemperoleh data dilakukandengancara :
a.
Anamnesis.
Anamnesis dilakukanuntukmendapatkanbiodatariwayatmenstruasi, riwayatkesehatan,
riwayatkehamilan, persalinan, dannifas, bio-psiko-sosio-spiritual,
sertapengetahuanklien.
b.
Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda
vital, meliputi :
1)
Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi)
2)
Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan cacatan terbaru serta cacatan
sebelumnya)
Dalam manajemen kolaborasi, bila
klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter, bidan akan
melakukan upaya konsultasi. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan
menentukan langkah berikutnya sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan benar
tidaknya proses interpretasi pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu, pendekatan ini harus komprehensif, mencakup data
subjektif, data objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan
kondisi klien yang sebenarnya valid. Kaji ulang data yang sudah dikumpulkan
apakah sudah tepat, lengkap, dan akurat.
2. Interpresati Data Dasar
(Langkah II)
Pada langkah kedua dilakukan identitas terhadap
diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang
telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian
di interpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang
spesifik. Baik
rumusan diagnosis maupun masalah, keduanya harus ditangani. Meskipun masalah
tidak dapat diartikan sebagai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan penanganan.
Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sering dialami wanita yang
diidentifikasioleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering
menyertai diagnosis.
Diagnosis kebidanan merupakan
diagnosis yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi
standar nomenklatur diagnosis kebidanan.
Contoh :
Data : Ibu hamil 8 bulan, anak pertama, hasil pemeriksaan menunjukkan
tinggi fundus uteri 31 cm, BJA (+), puki, presentasi kepala, penurunan 5/5, nafsu makan baik, penambahan BB selama
hamil 8 kg, ibu sering buang air kecil pada malam hari.
Diagnosis : G1P0A0, hamil 32 minggu, presentasi
kepala, anak tunggal hidup intrauterine, ibu mengalami gangguan fisiologis pada
kehamilan tua.
Perasaan takut tidak termasuk
dalam kategori ‘nomenklatur standar diagnosis’, tetapi tentu akan menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian
lebih lanjut dan memerlukan suatu perencanaan untuk mengatasinya.
Standar nomenklatur diagnosa kebidanan :
a.
Diakui dan telah
disyahkan oleh profesi.
b.
Berhubungan
langsung dengan praktek kebidanan.
c.
Memiliki
ciri khas kebidanan
d.
Didukung
oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
e.
Dapat
diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
3. Identitas Diagnosis/Masalah Potensial
dan Antisipasi Penanganannya (Langkah III)
Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah
potensial atau diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/maslah yang sudah
diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis/masalah
potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam melakukan
asuhan yang aman.
Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu
mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang
akan terjadi, tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau
diagnosis tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang
rasional/logis. Kaji ulang apakah diagnosa atau masalah potensial yang
diidentifikasi sudah tepat.
Contoh :
Seorang
wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbang
kemungkinan penyebab pembesaran uterus yang berlebiahan tersebut (misal :
polihidramnion, besar dari masa kehamilan, ibu dengan diabetes kehamilan, atau
kehamilan kembar). Kemudian bidan harus melakukan perencanaan untuk
mengantisipasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan
postpartum tiba-tiba yang disebabkan oleh atonia uteri karena pembesaran uterus
yang berlebihan.
4.
Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolabirasi Segera dengan Tenaga
Kesehatan Lain (Langkah IV)
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter
melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain
sesuai dengan kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan
kesinambungan proses manajemen kebidanan. Jadi, manajemen tidak hanya berlangsung selama asuhan primer periodik atau kunjungan
prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut dalam persalinan.
Dalam kodisi tertentu, seorang
bidan mungkin juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter
atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli
perawat klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi
kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa sebaiknya konsultasi
kolaborasi dilakukan.
Penjelasan diatas menunjukkan
bahwa dalam melakukan suatu tindakan harus disesuaikan dengan prioritas masalah/kondisi keseluruhan yang dihadapi klien. Setelah bidan
merumuskan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi diagnosis/masalah
potensial pada langkah sebelumnya, bidan yang harus merumuskan tindakan
emergency darurat yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi.
Rumusan ini mencakup tindakan segera yang bias dilakukan secara mandiri,
kolaborasi, atau bersifat rujukan.
5.
Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh (Langkah V)
Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh
yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah atau diagnosis
yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang
menyeluruh tidak hanya meliputi segala hal yamg sudah teridentifiksasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang terkait, tetapi juga dari kerangka
pedoman antisipasi untuk klien tersebut. Pedoman antisipasi ini mencakup
perkiraan tentang hal yang akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan
penyuluhan, konseling dan apakah bidan perlu merujuk klien bila ada sejumlah
masalah terkait sosial, ekonomi, kultural atau psikologi. Dengan kata lain, asuhan
terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua
aspek asuhan kesehatan dan sudah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu bidan
dan klien, agar dapat dilaksanakan secara efektif karena
klien juga akan melaksanakan rencana tersebut. Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana
asuhan sesuai hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat
kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang telah disepakati dikembangkan dalam
asuhan menyeluruh. Asuhan ini harus besifat rasional dan valid yang didasarkan pada pengetahuan, teori terkini (up
to date), sesuai dengan asumsi tentang apa yang dilakukan klien.
Kaji ulang apakah rencana asuhan sudah meliputi semua
aspek asuhan kesehatan terhadap wanita.
6.
Pelaksanaan
Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman (Langkah VI)
Pada langkah ke enam, rencana asuhan menyeluruh
dilakukan dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya
oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan
lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia tetap memikul
tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya dengan memastikan
bahwa langkah tersebut benar-benar terlaksana).
Dalam situasi ketika bidan berkolaborasi dengan dokter
untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung jawab
terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut.
Penatalaksanaan yang efisien dan berkualitas akan berpengaruh pada waktu serta
biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.Kaji ulang apakah semua rencana
asuhan telah dilaksanakan.
7.
Evaluasi
(Langkah VII)
Evaluasi dilakukan secara siklus dengan mengkaji ulang
aspek asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui faktor mana yang menguntungkan
atau menghambat keberhasilan asuhan yang diberikan.
Pada langkah terakhir, dilakukan evaluasi keefektifan
asuhan yang sudah diberikan. Ini meliputi evaluasi pemenuhan kebutuhan akan
bantuan: apakah benar-benar telah terpenuhi sebagaimana diidentifikasi di dalam
diagnosis dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efekif jika memang benar
efektif dalam pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut
efektif sedang sebagian lagi belum efektif. Mengingat bahwa proses manajemen
asuhan merupakan suatu kegiatan yang bersinambungan, maka bidan perlu
mengulangi kembali setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen
untuk mengidentifikasi mengapa rencana asuhan tidak berjalan efektif serta pada
rencana asuhan tersebut.
Demikianlah langkah-langkah alur berpikir dalam
penatalaksanaan klien kebidanan. Alur ini merupakan suatu proses yang
berkesinambungan dan tidak terpisah satu sama lain, namun berfungsi memudahkan
proses pembelajaran. Proses tersebut diuraikan dan dipilah seolah-olah terpisah
antara satu tahap/langkah dengan langkah berikutnya.
Langkah-langkah proses manajemen umumnya merupakan
pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta
berorientasi pada proses klinis, karena proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah terakhir tergantung pada
klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen ini dievaluasi
dalam tulisan saja.
![]() |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar